Senin, 10 Februari 2014

MANUSIA PERTAMA TURUN DI "INDONESIA

MANUSIA PERTAMA TURUN DI "INDONESIA" ?

Manusia Pertama: Catatan dari Teori Oppenheimer (Oxford University - England)

Para ahli sejarah umumnya berpendapat bahwa Asia Tenggara adalah kawasan "pinggir"
dalam sejarah peradaban manusia. Dengan kata lain, peradaban Asia Tenggara bisa maju dan
berkembang karena imbas-imbas migrasi, perdagangan, dan efek-efek yang disebabkan
peradaban lain yang digolongkan lebih maju seperti Cina, India, Mesir, dan lainnya. Buku Eden
In The East yang ditulis Oppenheimer seolah mencoba menjungkirbalikkan pendapat meinstream
tersebut.

Oppenheimer mengemukakan pendapat bahwa justru peradaban-peradaban maju di dunia
merupakan buah karya manusia yang pada mulanya menghuni kawasan yang kini menjadi
Indonesia. Oppenheimer tidak main-main dalam mengemukakan pendapat ini. Hipotesisnya
disandarkan kepada sejumlah kajian geologi, genetik, linguistik, etnografi, serta arkeologi.
Gagasan diaspora manusia dari kawasan Asia Tenggara dicoba untuk direkonstruksi dari
peristiwa di akhir Zaman Es (last Glacial Maximum) pada sekitar 20.000 tahun yang lalu. Pada
saat itu, permukaan laut berada pada ketinggian 150 meter di bawah permukaan laut di zaman
sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat, masih menyatu dengan benua Asia sebagai sebuah
kawasan daratan mahaluas yang disebut Paparan Sunda.

Ketika perlahan-lahan suhu bumi memanas, es di kedua kutub bumi mencair dan
menyebabkan naiknya permukaan air laut, sehingga timbul banjir besar. Penelitian oseanografi
menunjukkan bahwa di bumi ini pernah tiga kali terjadi banjir besar pada 14.000, 11.000, dan
8.000 tahun yang lalu. Banjir yang terakhir adalah peristiwa yang menyebabkan kenaikan
permukaan air laut hingga setinggi 8-11 meter dari tinggi permukaan asalnya. Banjir tersebut
mengakibatkan tenggelamnya sebagian besar kawasan Paparan Sunda hingga terpisah-pisah
menjadi pulau-pulau yang kini kita kenal sebagai Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali.
Oppenheimer mengemukakan bahwa saat itu, kawasan Paparan Sunda telah dihuni oleh
manusia dalam jumlah besar. Karena itulah, menurutnya, hampir semua kebudayaan dunia
memiliki tradisi yang mengisahkan cerita banjir besar yang menenggelamkan sebuah daratan.
Kisah-kisah semacam banjir Nabi Nuh as, olehnya dianggap sebagai salah satu bentuk transfer
informasi antargenerasi manusia tentang peristiwa mahadahsyat tersebut.

Menurut Oppenheimer, setelah terjadinya banjir besar tersebut, menusia mulai menyebar ke
belahan bumi lainnya. Oppenheimer menyatakan bahwa hipotesisnya ini disokong oleh
rekonstruksi persebaran linguistik terbaru yang dikemukakan Johanna Nichols. Nichols memang
mencoba mendekonstruksi persebaran bahasa Austronesia. Sebelumnya, Robert Blust (linguis)
dan Peter Bellwood (arkeolog) menyatakan bahwa persebaran bahasa-bahasa Austronesi a
berasal dari daratan Asia ke Formosa (Taiwan) dan Cina Selatan (Yunnan) sebelum sampai ke
Filipina, Indonesia, Kepulauan Pasifik dan Madagaskar. Nichols menyatakan konstruksi yang
terbalik, di mana bahasa-bahasa Austronesia menyebar dari Indonesia-Malaysia ke kawasankawasan
lainnya dan menjadi induk dari bahasa-bahasa dunia lainnya.

Oppenheimer berkeyakinan bahwa penduduk Malaysia, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan
dewasa ini adalah keturunan dari para penghuni Paparan Sunda yang tidak hijrah setelah
tenggeamnya sebagian kawasan tersebut. Dengan kata lain, ia hendak mengemukakan bahwa
persebaran manusia di dunia berasal dari kawasan ini.

Pendapatnya ia perkuat dengan mengemukakan analisa tentang adanya kesamaan bendabenda
Neolitik di Sumeria dan Asia Tenggara yang diketahui berusia 7.500 tahun. Kemudian ciri
fisik pada patung-patung peninggalan zaman Sumeria yang memiliki tipikal wajah lebar
(brachycepalis) ala oriental juga memperkuat hipotesis tersebut.

Oppenhimer juga yakin bahwa tokoh dalam kisah Gilgamesh yang dikisahkan sebagai satusatunya
tokoh yang selamat dari banjir besar adalah karakter yang sama dengan Nabi Nuh as
dalam kitab Bible dan Qur’an yang tak lain karakter yang berhasil menyelamatkan diri dari
banjir besar yang menenggelamkan paparan Sunda. Legenda Babilonia tua mengisahkan pula
kedatangan tujuh cendekiawan dari timur yang membawa keterampilan dan pengetahuan baru.
Kisah yang sama terdapat pula di dalam India kuno di Hindukush. Varian legenda semacam ini
pun ternyata tersebar di Kepulauan Nusantara dan Pasifik.

Oppenheimer lebih lanjut mengemukakan bahwa kisah yang serupa dengan kisah penciptaan
Adam dan Hawa serta pertikaian Kain dan Abel (Qabil dan Habil) ternyata dapat ditemukan di
kawasan Asia Timur dan Kepulauan Pasifik. Misalnya orang Maori di Selandia Baru, menyebut
perempuan pertama dengan nama "Eeve". Kemudian di Papua Nugini, kisah yang serupa dengan
Kain dan Abel ada dalam wujud Kullabop dan Manip. Tradisi-tradisi di kawasan ini juga
mengemukakan bahwa manusia pertama di buat dari tanah lempung yang bewarna merah.

Atas dasar berbagai hipotesis tersebut pula, Oppenheimer meyakini bahwa Taman Eden yang
disebut-sebut dalam Bible ada di Paparan Sunda. Berbicara tentang hipotesis Oppenheimer ini,
saya juga jadi teringat salah satu ayat dalam Kitab Genesis yang dengan jelasmenyebut bahwa
Eden ada di Timur. Mungkinkah Taman Eden memang berlokasi di Indonesia? Dan Manusia
Pertama pun ditempatkan Tuhan di Indonesia? Wallaahu’alam.

Tautan Video

Tautan Video Organisasi Yahudi Pencuri Harta Sunda Nusantara


Harta warisan dari Kekaisaran Sunda Nusantara yang kini dijadikan alat jaminan bank rentenir dunia (bank dunia/imf/adb dst) agar semua negara, bangsa & manusia terutama "Indonesia" tidak bisa mengelak atas kemauan mereka LIHAT http://ramasakti101.multiply.com/video/item/1. siapa dibalik ini semua yang sudah mencuri, merampas warisan dan membantai kakek moyang kita (raja-raja nusantara & keluarganya) diabad XVII (melalui kedatangan raffles -1811) PLUS membohongi dengan sejarah baru nama "INDONESIA" ditanah negara berdaulat tidak pernah terkalahkan dan tidak pernah terjajah KEKAISARAN SUNDA NUSANTARA agar negara berpenduduk ISLAM terbanyak didunia ini menjadi kufur dan Kafir tanpa terasa. SIAPA mereka adalah LIHAT http://www.youtube.com/watch?v=vuoEhmkzsRs&feature=player_embedded

BERITA GEMBIRA:

BERITA GEMBIRA: PUZZLE SEJARAH MULAI KELIHATAN BERBENTUK


Assalamualaikum Waramatullah hiwabarokatuh,

Subhan Allah...Allah Hu Akbar.....apa yang kami ceritakan sejarah-sejarah ini sesusungguhnya adalah cerita yang harus kami sampaikan mengingat akhir jaman telah tiba. Hampir sebagian puzzle-puzzle sejarah mendekati tersusun sebagaimana kehendak Allah dan tiada keraguan lagi HITUNGAN MUNDUR sudah mulai tapi diluar sana banyak yang tidak menghiraukan bahkan mengingkarinya. Wahai sodaraku yang beriman kepada Allah sudah waktunya kalian membuka daya nalar kalian bahwa waktunya telah tiba mengenal sejarah dirimu dan kaummu agar engkau dan aku beristigfar atas kekeliruan kita dan sambutlah fase ke 5 yaitu pemerintahan baru yang sungguh-sungguhnya Nabi Isa AS dan Imam Mahdi seperti janji Allah menggantikan masa hidup penuh fitnah dan dosa ini.

Untuk lebih memahami ringkasan dari seluruh dokumen/artikel kami silahkan klik http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=flKJrxvXxyE

Apabila sodaraku ingin memahami lebih lanjut rincian sejarahnya maka silahkan mempejarinya pada file dokumen kami http://www.facebook.com/groups/nusantara.discuss/files/

Semoga kita masih masuk dalam golongan orang-orang yang beriman yang mau menyadari kekeliruannya dan kembali kejalan kehidupan yang dibenarkan Allah SWT.

Kami mohon maaf atas apabila banyak kesalahan dalam tulisan kami atau menyinggung perasaan sodaraku....semoga pintu maaf kita semua dibukakan Allah SWT seluas-luasnya.

A/N. Pengurus Group
http://www.facebook.com/groups/nusantara.discuss/

Wassalamualikum waramatullah hiwabarokatuh.

FILSAFAT, JATIDIRI & AMANAH LELUHUR

FILSAFAT, JATIDIRI & AMANAH LELUHUR



Kehidupan ber-Filsafat
Banyak kita dengar para ilmuwan negara-negara tetangga silih berganti berlomba memberikan kontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan. Berbanding jumlah penduduknya Indonesia saat ini dikaitkan dengan kondisi kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia saat ini maka memang kiranya kita perlu prihatin karena nama Indonesia jarang tersebut dalam kontribusi kemajuan ilmu pengetahuan dunia, apalagi penemuan teknologi yang bisa memberikan kontribusi luas bagi kemajuan kesejahteraan hidup bangsa Indonesia.

Lalu apa penyebabnya? Di negeri lain, pemerintahnya dengan sadar mengutamakan mata pelajaran yang bersifat mengarah pada pembentukan karakter seperti filsafat, seni, dan sastra sedangkan sistem pendidikan dasar di Indonesia hanya cukup puas dengan metode calistung atau baca, tulis, dan berhitung saja.

Ada korelasi mendasar dalam pendidikan model Barat dimana sejak anak usia dini telah diberikan dasar filsafat. Filsafat sebenarnya harus ditanamkan sedini mungkin, sebab, filsafat berkaitan erat dengan kehidupan. Masalah “calistung” hanya merupakan penyelesaian masalah teknis di kehidupan. Mengajarkan filsafat pada anak-anak merupakan solusi yang baik untuk membentuk kepribadian anak serta untuk mengajarkan hakikat kehidupan.

Menyontek dari Wikipedia, Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.

Pada kasus-kasus yang ada, seorang anak seringkali bertanya kepada orang tua dengan pertanyaan yang mungkin jauh melebihi pemikiran anak seusianya, misalnya, “Ayah kenapa aku bisa ada di dunia ini?”, atau “Ibu, kenapa orang bisa mati, lalu besoknya ada bayi yang lahir?”. Barangkali untuk sebagian orang tua akan susah menjawab pertanyaan si anak. Pertanyaan di atas sebenarnya menyangkut pada identitas manusia.

Dalam filsafat dikenal sebagai konsep dari keber”Ada”an. Manusia Ada dan meng-Ada. Para ilmuwan mendefinisikan Ada sebagai kebermulaan dari sebuah kehidupan. Dalam konteks agama, Ada ini didefinisikan sebagai Tuhan yang menciptakan kehidupan dan segala isinya. Dapatkah hal ini dijelaskan dalam bahasa anak-anak?Anak-anak usia berkembang merupakan usia anak yang serbaingin tahu. Melihat fenomena yang ada di sekelilingnya selalu menarik keingintahuannya.

Psikomotoriknya bergerak, melihat segala sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Oleh karena itu, wajarlah jika anak sering melontarkan pertanyaan yang barangkali terlalu cepat ditanyakan pada anak seusia tersebut.

Tentunya, pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dengan eksistensi kehidupan tidak mungkin dijawab dengan metode “calistung” saja bukan? Untuk menjawab sebuah pertanyaan tentang kehidupan, seorang anak harus dibekali wawasan pengetahuan lain yang mampu menjabarkan apa yang tersurat di dalam agama. Mengacu pada pemikiran Aristoteles yang mengemukakan bahwa Agama, Filsafat, dan Sastra adalah beberapa hal yang mampu membawa manusia menuju kebenaran. Sastra dan Filsafat bersumber pada Agama. Agama sebagai pedoman hidup, lalu Filsafat dan Sastra sebagai jalan menuju pedoman manusia tersebut.

Mengajarkan filsafat pada anak secara perlahan akan membentuk keintelektualan yang terintegrasi. Berapa banyak pemikir-pemikir muda di Indonesia ini? Bangsa ini selalu menganggap bahwa seseorang dikatakan pintar atau jenius jika ia menguasai sains dan teknologi. Kenyataannya, para ahli sains dan teknologi pun masih kewalahan untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Mereka terlalu sering menggunakan otak kiri, namun otak kanannya jarang sekali dimaksimalkan.

Otak kanan adalah kemampuan otak dalam hal-hal seni, sastra, dan filsafat. Oleh karena itu, kini para ilmuwan dan dokter menganjurkan untuk membaca sastra, bermain dan mendengarkan musik (terutama klasik dan jazz), serta teater. Selain untuk menyeimbangkan fungsi otak kanan, juga sebagai sarana untuk kembali “menyadarkan” kesadaran manusia yang hanyut dalam teori-teori sains.

Beberapa keuntungan mengajarkan ilmu Filsafat kepada anak, salah satunya ialah menjadikan anak memiliki kemapuan menalar yang baik. Pada dasarnya dunia ini terdiri dari banyak tanda. Sama seperti dalam karya sastra, tanda-tanda tersebut akan menjadi baik bila manusia mahir menafsirkannya. Namun, jika kita salah menafsirkan tanda-tanda tersebut malah akan menjerumuskan manusia.

Anak-anak haruslah sudah mampu membaca tanda di sekelilingnya, agar tidak terjadi lagi anak-anak yang nantinya malah akan terjerumus menjadi generasi yang kotor dan salah. Salah satu contoh pembelajaran filsafat pada anak adalah ketika seorang guru bertanya kepada muridnya tentang apa yang ada di balik tembok kelas. Murid-murid menjawab di balik tembok kelas ada jalan raya, halaman, mobil, dan lapangan basket. Guru tersebut tersenyum dan berkata bahwa jawaban mereka semuanya salah. Lantas guru tersebut menjawab bahwa yang ada di balik tembok itu adalah cat yang menutupi lapisan tembok.

Sangat sederhana memang, namun itulah hakikat dari filsafat. Filsafat mengajarkan hal-hal yang tidak mampu didefinisikan oleh ilmu apa pun, sebab filsafat adalah sumber dari segala cabang ilmu pengetahuan. Tanda-tanda yang telah disebutkan oleh mruid-murid di atas adalah tanda yang bersifat konvensional, namun mereka lupa bahwa tanda yang dekat dan bahkan kita tidak menyadarinya sangat berperan dan berpengaruh dalam kehidupan.

Seringkali dalam pandangan orang, Filsafat mengajarkan Atheis. Pernyataan itu tentunya sama sekali tidak benar. Filsafat sangat berkaitan erat dengan agama. Keatheisan yang muncul dalam filsafat didasarkan pada pemahaman yang berbeda dari masing-masing orang tentang konsep keber”Ada”an. Agama mana pun di dunia ini selalu berkaitan dengan filsafat untuk mendefinsikan ajarannya.

Filsafat pada dasarnya adalah “tafsir yang (ber)etika”, yakni penafsiran yang (harus) mengandung etika ketika kita memaknai suatu tanda tertentu. Agama sendiri pun butuh tafsiran untuk memaknai ajaran yang tertera pada ayat-ayat suciNya.

Menjelang masa-masa perkembangan tubuh dan pikirannya, anak-anak perlu dibekali semacam pengetahuan tentang hakikat kehidupan. Tujuannya adalah untuk mengarahkan pemikiran anak-anak ke pemikiran yang berintelektual. Ada kalanya orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anak. Jika asal menjawab maka selamanya anak akan mengacu pada jawaban itu. Misalnya ketika mengapa kita harus takut pada hantu, orang tua akan menjawab karena hantu akan menggigit manusia. Sebenarnya maksud orang tua bukan untuk menakut-nakuti, tetapi jika anak tidak dibekali kemampuan menafsir yang baik, secara otomatis ia akan takut pada hantu seumur hidupnya.

Ada kalanya anak sendirilah yang harus mencari sendiri jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Dengan diajari filsafat, setidaknya ia mampu memahami realitas-realitas kehidupan yang baru dan sama sekali belum pernah dilihatnya. Filsafat mengajarkan kontinuitas berpikir manusia, bukan untuk membuat mandeg pikiran manusia.

Filsafat dan Jati Diri
Jati diri manusia merupakan unitas dan kompleksitas di dalam diri manusia. Dengan maksud, manusia sebagai kesatuan utuh yang mencakup kepribadian, identitas diri, dan keunikan diri. Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Karena mereka merupakan aspek-aspek yang intregal.
Selain itu jati diri manusia mengalami perkembangan karena manusia terlibat di dalam interaksi dengan lingkungan sekitar. Dengan begitu, jati diri manusia merupakan sesuatu yang dinamis.

Uraian di atas menunjukkan bahwa jati diri manusia sebagai pengada aktual bagi pengetahuan yang dinamis dan berproses. Dalam artian, manusia merupakan kesatuan unsur dan tahap dari tahap paling rendah ke tahap paling tinggi. Ketika manusia mencapai tahap rasional, tahap tertinggi, ia terdorong untuk menemukan pembaruan dan dengan pengetahuannya mengatasi keterbatasan dengan menciptakan alat untuk membantunya. Kemampuan itu telah menunjukkan bahwa jati diri manusia merupakan kesatuan subjek pengada aktual.

Keunikan dan kekhasan jati diri merupakan proses pembentukan diri sebagai pengada aktual. Pembentukan diri itu mengunakan tiga tahap pengumpulan dan pengolahan data, dan kepenuhan jati diri. Pengumpulan data merupakan data manusia yang tidak berubah dan mancapai kepenuhannya. Kepenuhan ini telah melahirkan sistem nilai yang ada di dunia, masyarakat, dan masa lampau (leluhurnya). Dikehendaki, nilai itu dilestarikan dengan ditawarkan pada pengada baru. Pengelolaan data adalah proses pembentukan citra diri. Citra diri adalah prinsip mengarah kepada kepenuhan. Kepenuhan merupakan keputusan terakhir dari jati diri yang pasti dan sudah tidak kurang dan lebih. Setelah ini pengada menjadi kekayaan dunia karena manjadi bahan baru untuk diolah dan dijadikan nilai pribadi.

Proses ini merupakan kegiatan intelektual manusia. Kegiatan intelektual yang membentuk keunikan dan kesatuan yang menggambarkan “masyarakat” yang memahami amanah leluhurnya dalam perilaku budaya setempat. Di dalam manusia terdapat berbagai bagian-bagaian yang berbeda. Namun, keseluruhannya saling tergantung dan membentuk satu kesatuan yang utuh sebagai kesatuan.

Filsafat, Jati Diri dan Amanah leluhur

SILSILAH
Bangsa Indonesia sungguh berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi. Perbedaan paling mencolok adalah jerih payahnya saat membangun dan merintis berdirinya bangsa sebesar nusantara ini. Kita semua paham bila berdirinya bangsa dan negara Indonesia berkat perjuangan heroik para leluhur kita. Dengan mengorbankan harta-benda, waktu, tenaga, pikiran, darah, bahkan pengorbanan nyawa. Demi siapakah ? Bukan demi kepentingan diri mereka sendiri, lebih utama demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak turunnya, para generasi penerus bangsa termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini. Penderitaan para leluhur bangsa bukanlah sembarang keprihatinan hidup.

para leluhur perintis bangsa zaman dahulu telah melakukan beberapa laku prihatin yang teramat berat dan sulit dicari tandingannya sebagai berikut;
1.  Tapa Ngrame; ramai dalam berjuang sepi dalam pamrih mengejar kepentingan pribadi.
2.  Tapa Brata; menjalani perjuangan dengan penuh kekurangan materiil. Perjuangan melawan kolonialism tidak hanya dilakukan dengan berperang melawan musuh, namun lebih berat melawan nafsu pribadi dan nafsu jasad (biologis dan psikis).
3.  Lara Wirang; harga diri dipermalukan, dihina, ditindas, diinjak, tak dihormati, dan nenek moyang bangsa kita pernah diperlakukan sebagai budak di rumahnya sendiri.
4.  Lara Lapa; segala macam penderitaan berat pernah dialami para leluhur perintis bangsa.
5.  Tapa Mendhem; para leluhur banyak yang telah gugur sebelum  merdeka, tidak menikmati buah yang manis atas segala jerih payahnya. Berjuang secara tulus, dan segala kebaikannya dikubur sendiri dalam-dalam tak pernah diungkit dan dibangkit-bangkit lagi.
6.  Tapa Ngeli; para leluhur bangsa dalam melakukan perjuangan kepahlawanannya dilakukan siang malam tak kenal menyerah. Penyerahan diri hanya dilakukan kepada Hyang Mahawisesa (Tuhan Yang Mahakuasa).

Itulah kelebihan leluhur perintis bumi nusantara, suatu jasa baik yang mustahil kita balas. Kita sebagai generasi penerus bangsa telah berhutang jasa (kepotangan budhi) tak terhingga besarnya kepada para perintis nusantara. Tak ada yang dapat kita lakukan, selain tindakan berikut ini :
  1. Memelihara dan melestarikan pusaka atau warisan leluhur paling berharga yakni meliputi tanah perdikan (kemerdekaan), hutan, sungai, sawah-ladang, laut, udara, ajaran, sistem sosial, sistem kepercayaan dan religi, budaya, tradisi, kesenian, kesastraan, keberagaman suku dan budaya sebagaimana dalam ajaran Bhinneka Tunggal Ikka. Kita harus menjaganya jangan sampai terjadi kerusakan dan kehancuran karena salah mengelola, keteledoran dan kecerobohan kita. Apalagi kerusakan dengan unsur kesengajaan demi mengejar kepentingan pribadi.
  2. Melaksanakan semua amanat para leluhur yang terangkum dalam sastra dan kitab-kitab karya tulis pujangga masa lalu. Yang terekam dalam ajaran, kearifan lokal (local wisdom), suri tauladan, nilai budaya, falsafah hidup tersebar dalam berbagai hikayat, cerita rakyat, legenda, hingga sejarah. Nilai kearifan lokal sebagaimana tergelar dalam berbagai sastra adiluhung dalam setiap kebudayaan dan tradisi suku bangsa yang ada di bumi pertiwi. Ajaran dan filsafat hidupnya tidak kalah dengan ajaran-ajaran impor dari bangsa asing. Justru kelebihan kearifan lokal karena sumber nilainya merupakan hasil karya cipta, rasa, dan karsa melalui interaksi dengan karakter alam sekitarnya. Dapat dikatakan kearifan lokal memproyeksikan karakter orisinil suatu masyarakat, sehingga dapat melebur (manjing, ajur, ajer) dengan karakter masyarakatnya pula.
  3. Mencermati dan menghayati semua peringatan (wewaler) yang diwasiatkan para leluhur, menghindari pantangan- pantangan yang tak boleh dilakukan generasi penerus bangsa. Selanjutnya mentaati dan menghayati himbauan-himbauan dan peringatan dari masa lalu akan berbagai kecenderungan dan segala peristiwa yang kemungkinan dapat terjadi di masa yang akan datang (masa kini). Mematuhi dan mencermati secara seksama akan bermanfaat meningkatkan kewaspadaan dan membangun sikap eling.
  4. Tidak melakukan tindakan lacur, menjual pulau, menjual murah tambang dan hasil bumi ke negara lain. Sebaliknya harus menjaga dan melestarikan semua harta pusaka warisan leluhur. Jangan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, “menggunting dalam lipatan”.
  5. Merawat dan memelihara situs dan benda-benda bersejarah, tempat yang dipundi-pundi atau pepunden (makam) para leluhur. Kepedulian kita untuk sekedar merawat dan memelihara makam leluhur orang-orang yang telah menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa, termasuk dalam mendoakannya agar mendapat tempat kamulyan sejati dan kasampurnan sejati di alam kelanggengan merupakan kebaikan yang akan kembali kepada diri kita sendiri. Tak ada  buruknya kita meluhurkan leluhur bangsa asing dengan dalih apapun; agama, ajaran, budaya, ataupun sebagai ikon perjuangan kemanusiaan. Namun demikian hendaknya leluhur sendiri tetap dinomorsatukan dan jangan sampai dilupakan bagaimanapun juga beliau adalah generasi pendahulu yang membuat kita semua ada saat ini. Belum lagi peran dan jasa beliau-beliau memerdekakan bumi pertiwi menjadikan negeri ini menjadi tempat berkembangnya berbagai agama impor yang saat ini eksis. Dalam falsafah hidup Kejawen ditegaskan untuk selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Mengerti asal muasalnya hingga terjadi di saat ini. Dengan kata lain ; kacang hendaknya tidak melupakan kulitnya.
  6. Hilangkan sikap picik atau dangkal pikir (cethek akal) yang hanya mementingkan kelompok, gender atau jenis kelamin, golongan, suku, budaya, ajaran dan agama sendiri dengan sikap primordial, etnosentris dan rasis. Kita harus mencontoh sikap kesatria para pejuang dan pahlawan bumi pertiwi masa lalu. Kemerdekaan bukanlah milik satu kelompok, suku, ras, bahkan agama sekalipun. Perjuangan dilakukan oleh semua suku dan agama, kaum laki-laki dan perempuan, menjadikan kemerdekaan sebagai anugrah milik bersama seluruh warga negara Indonesia.

Semoga tulisan ini menggugah kita untuk ber-filsafat dalam kehidupan agar kita semakin matang untuk dapat menyelesaikan krisis multi dimensi bangsa Indonesia ini dengan arif bijaksana sesuai dengan kepribadian diri dan bangsa.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat

TENTANG BOROBUDUR

Sejarah "Re-Historical Borobudur" di Mulai dari sini


Created by CITRALOKA LALITA


Untuk sekadar mengingatkan kembali bagaimana pentingnya kita menghargai sejarah dan benda-benda peninggalan berupa artefak-artefak, candi, prasasti, atau yang lainnya, marilah kita melihat bagaimana Candi Borobudur direkonstruksi sehingga menjadi bangunan yang megah dan termasuk tujuh keajaiban dunia. Untuk mengawalinya kita perlu melihat bagaimana nama dan Candi Borobudur diketahui.

Hutan belakar

Sekira tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar. Kemudian pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825.

Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada nama tempat. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit. Sedangkan Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya.

Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Dalam teks pelajaran sejarah: disebutkan bahwa candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Sedangkan yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani. Katanya Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 dan 842 Masehi. Candi Buddha ini kemungkinan besar ditinggalkan sekitar satu abad setalah dibangun karena pusat kerajaan pada waktu itu berpindah ke Jawa Timur.



Sebelum dipugar, Candi Borobudur berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan sekarang ini. Ketika kita mengunjungi Borobudur dan menikmati keindahan alam sekitarnya dari atas puncak candi, kadang kita tidak pernah berpikir tentang siapa yang berjasa membangun kembali Candi Borobudur menjadi bangunan yang megah dan menjadi kekayaan bangsa Indonesia ini.

Pemugaran selanjutnya, setelah oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana. Oleh sebab itu, para pemugar harus memiliki sekelumit sejarah agama ini di Indonesia. Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.

Materi candi
Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir. Tetap menjadi suatu misteri,sekedar tambahan candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar di dunia dengan tinggi 34,5 meter dan luas bangunan 123 x 123 meter. Di dirikan di atas sebuah bukit yang terletak kira-kira 40 km di barat daya Yogyakarta, 7 km di selatan Magelang, Jawa Tengah.



Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa.

Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Dan itulah salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Melihat kemegahan bangunan Candi Borobudur saat ini dan candi-candi lainnya di Indonesia telah memberikan pengetahuan yang besar tentang peradaban bangsa Indonesia. Berbagai ilmu pengetahuan terlibat dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp. Kita patut menghargai usaha-usahanya mengingat berbagai kendala dan kesulitan yang dihadapi dalam membangun kembali candi ini.

Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi. Restorasi di tahun 1974-1983


Harta karun

Pemugaran selanjutnya dilakukan pada tahun 1973-1983, selang 70 tahun dari pemugaran yang dilakukan van Erp. Pemugaran ini dimaksudkan tiada lain sebagai upaya melestarikan budaya yang tak ternilai harganya. Inilah “harta karun” yang sesungguhnya tak bisa dihargai dengan uang apalagi dijual untuk membayar utang. Kesadaran masyarakat untuk ikut mengamankan bangunan candi sangat diharapkan termasuk juga dari para wisatawan.

Penggalian, penelitian, dan rencana pemugaran terhadap candi-candi atau benda-benda bersejarah lainnya yang baru-baru ini ditemukan tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pemugaran bangunan budaya dan kepurbakalaan tidak semudah pembangunan gedung modern. Setiap bentuk bangunan budaya memiliki makna yang khusus dan hal ini tidak dapat diabaikan di dalam pemugaran bangunan kuno tersebut. Oleh sebab itu butuh dukungan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Upaya membangun kembali sebuah simbol-simbol peradaban yang pernah hilang berarti semakin membuka mata-hati kita tentang sejarah peradaban manusia Indonesia yang kaya dengan ilmu pengetahuan dan budaya. Dengan demikian, kita akan menjadi manusia berbudaya yang mampu menghargai budayanya sendiri sebagai bentuk jati diri dan identitas bangsa yang mandiri.

Akhirnya, kita harus membangkitkan kembali gairah menghargai benda-benda cagar budaya yang bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat dan bangsa, melainkan juga menjadi kekayaan ilmu pengetahuan yang akan terus mengungkap fakta-fakta sejarah itu. Menikmati keindahan dan menjaga kelestariannya merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sangat berarti. Tentunya peran lembaga yang berkaitan dengan perlindungan benda-benda cagar budaya perlu ditingkatkan dengan memberikan pemahaman, pengertian dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga dan melestarikan benda-benda tersebut.

Perlindungan hukum pun harus ditegakkan secara konsisten sehingga tidak terjadi lagi kepincangan-kepincangan hukum yang menyisakan rasa ketidakadilan bagi masyarakat, seperti halnya kasus peledakan Candi Borobudur pada 1983.

Namun, sampai sekarang Candi Borobudur masih menyimpan sejumlah misteri. Sejumlah misteri itu misalnya, siapa yang merancang Candi Borobudur, berapa jumlah orang dipekerjakan untuk membangun candi tersebut, dari mana saja batu untuk membangun candi ? Filosofi apa yang digunakan untuk membuat candi tersebut ? Tetapi yang pasti candi ini merupakan aset penting bagi Indonesia di mata dunia internasional. Kita harus bangga dan selalu menjaga kelestariannya.
Sumber: http://citraloka-lalita.blogspot.com/2012/03/candi-borobudur.html

Sabtu, 08 Februari 2014

TENTANG KAMI








Kami adalah perusahaan jasa yang melayani pengiriman paket & dokumen via kurir profesional dengan armada sepeda motor. Dengan cakupan layanan kami ke seluruh wilayah Jadetabek.Dengan fokus pemasaran melalui media sosial kepada mereka (perorangan maupun UKM & perusahaan) yang berorientasi pada efisiensi & ketepatan waktu. Kami berkomitmen untuk senantiasa
memberikan layanan terbaik bagi seluruh customer kami tanpa terkecuali. Bukan dengan pengiriman 1 hari sampai, bukan esok sampai, tetapi hanya 3 JAM. Sifat Layanan kami "Top Urgent". krn motto Kami"Trust One Priority"

   
LAYANAN KAMI.

Tingginya kebutuhan layanan jasa pengiriman yang cepat, aman & terpercaya di kota besar seperti Jakarta, tentu menjadi fokus kami untuk bisa memposisikan diri, dengan memberikan komitmen yang pasti, serta menawarkan layanan jasa pengiriman yang memiliki nilai lebih di antara para kompetitor kami, yang sudah terlebih dulu ada.

KETENTUAN

Besaran tarif berlaku untuk kiriman dengan berat paket sampai 3 KG pertama. Kelebihan berat selanjutnya, dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 5,000 / KG. Dengan berat maksimal kiriman sebesar 5 KG.Tarif sudah termasuk biaya pick up (penjemputan) ke alamat pengirim & pengantaran sampai ke alamat tujuan. Pengiriman dilakukan dengan menggunakan armada sepeda motor. Adapun besaran dimensi volume paket yang bisa ditoleransi, maksimal berukuran 30cm x 30cm x 30cm.

PEMBAYARAN

Pembayaran bisa dilakukan melalui transfer, maupun dititipkan melalui kurir kami (kecuali layanan belanja COD wajib melalui transfer).

KERJASAMA

Kami membuka kemitraan khusus bagi Anda pemilik UKM & bisnis online shop untuk bekerja sama dengan kami. Dapatkan penawaran tarif terbaik dari kami yang lebih terjangkau untuk pengiriman paket kepada customer Anda di seluruh wilayah Jadetabek.
  

         TOP SANNAYA COURIER'

Kami jasa kurir melayani antar kirim :
1.Paket,
2.Dokumen,
3.Undangan
se-JABODETABEK
Dengan tarif mulai Rp.40.000 s/d Rp. 175.000 ada harga tertentu untuk wilayah DKI jakarta
dengan pengiriman min 1 jam sampai.
-Trust One Priori
Mitra Usaha

KILAS BALIK SEJARAH SUNDA NUSANTARA


 KILAS BALIK SEJARAH KERAJAAN SUNDA NUSANTARA KILAS EMPIRE / SUNDA KEPULAUAN





BISMILLAHIRROHMANIRROHIM




A. PENDAHULUAN:

Mengamati perkembangan pemerintah saat ini, yang pada dasarnya merupakan upaya reformasi di segala bidang, ditandai oleh perubahan dalam paradigma berorientasi stabilitas paradigma untuk paradigma populis totalitarian terpusat (autonomization) telah menghasilkan banyak perubahan all transition bidang.Dalam (transisi) dari era dengan paradigma sentralisasi ke era paradigma populis (otonomisasi) seperti saat ini, adalah kesiapan tentu diinginkan di semua bidang yang mendasari pengaturan oleh kesiapan dan kesiapan untuk mewujudkan sikap moral berazaskan mengikuti pola kebenaran esensial.


Di sisi lain, sejalan dengan penyebab reformasi juga ada krisis moneter global, yang telah mengakibatkan krisis ekonomi berkepanjangan sampai saat ini. Tindakan berpola dari ketidaksiapan moral untuk menegakkan kebenaran esensial, telah memberikan warna lain dalam upaya reformasi. Penyalahgunaan wewenang, kolusi korupsi, dan nepotisme besar-besaran terjadi adalah pengetahuan umum di kalangan masyarakat. Keadaan seperti itu telah mengakibatkan dalam proses reformasi adalah kontra-produktif dan akan menyebabkan terjadinya krisis di berbagai bidang, krisis multi dimensi, termasuk munculnya bibit separatisasi, membagi kesatuan kebangsaan.


Dalam keadaan seperti itu, perlu mencari upaya untuk memecahkan masalah krisis multi-dimensi adalah cara terbaik mungkin. Perlu upaya yang dapat berfungsi sebagai perekat persatuan bangsa. Upaya ini tentu harus di tempat memulai mencari dan menemukan "IDENTITAS NASIONAL", dan upaya ini tidak dapat dipisahkan dari upaya untuk meluruskan kembali "SEJARAH BANGSA".


B. TUJUAN DAN TUJUAN:

Tujuan dari artikel dengan judul; Wisata Sejarah Flashback Dikepulauan Agung Sunda dan Sunda Kecil, adalah untuk memberikan gambaran besar dari sejarah perkembangan bangsa-bangsa yang hidup di tanah (wilayah) dan Kepulauan Sunda Besar Sunda Kecil, yang lama lalu dikenal sebagai Bangsa Sunda Nusantara (Kepulauan Sunda).


Tujuan dari makalah ini adalah upaya untuk meluruskan sejarah bangsa, serta langkah pembuka untuk mendapatkan respon (umpan balik) dari lapisan bangsa ini, sehingga pada akhirnya dapat memperoleh data masukan dan informasi tentang sejarah perkembangan bangsa yang benar dan dapat dipercaya, yang pada gilirannya akan mengarah pada pengenalan Bangsa Diri sejati, sebagai landasan keberangkatan pada langkah berikutnya untuk memecahkan masalah multi-dimensi krisis saat ini.


C. SEJARAH SINGKAT DARI GARIS BESAR BANGSA:

Bila dilihat sekilas, apakah geohistoris yang pernah terjadi pada sekitar 86 juta tahun sebelum era Kristen (sekitar 86 juta tahun. SM), tanah / dangkal / kontinen Sunda masih menyatu dengan daratan India (Asia) ke New Guinea (Irian Island) selanjutnya, sejalan dengan terjadinya peristiwa / bencana alam selama periode ini, seperti gempa bumi (baik vulkanik dan tektonik) mencairnya es laut di kutub bumi dari pemanasan global, pengaruh gravitasi, bulan dan matahari dan gerakan kerak bumi; Pada akhirnya membentuk negara kerak bumi sebagai cara untuk memetakan bumi yang ada.


Sejak sekitar 130 tahun AC pada saat Pemerintah bahwa Kerajaan Sunda yang ada, Kepulauan Sunda (Sunda Nusantara) dengan Ibukota Negara di Salaka Nagara (Banten / Banten), Jawa Barat. Maharaja kerajaan Sunda, Kepulauan Sunda berlanjut; Sampai abad ke-4 (Empat) yang dikenal sebagai Kerajaan Tarumanagara Maharaja Sunda, yang pada waktu itu sudah dikenal oleh Kerajaan Cina.


Pengembangan lebih lanjut dari sejarah telah menunjukkan bahwa, Kerajaan Raja Agung Sunda, Kepulauan Sunda berkembang dan berbasis di Kerajaan Galuh. Pada abad ke -13 (tiga belas), istana kerajaan sebagai pemerintah pusat dalam bergerak dari Galuh (Jawa Barat) ke tempat yang disebut Pakwan Pajajaran atau hubungi (istana) Pajajaran. Sejak itu Raja Agung Kerajaan Sunda di daratan (benua) juga disebut Kekaisaran Sunda Pajajaran Modal dengan Pakwan Pajajaran.


Pada sekitar tahun 723 thn Penerus Generasi Pusat Maharaja Sunda kerajaan bergeser ke timur, sebagai Kerajaan Medang Kamulan, yang kemudian berkembang dan kemudian menjadi kerajaan Mataram. Sekitar abad ke-16 (enam belas) kekaisaran wilayah kerajaan Demak penutup tertentu (Jawa Tengah).


Pada abad ke-16, Kerajaan Raja Agung Sunda, Kepulauan Sunda (Sunda Nusantara) telah dikembangkan lebih lanjut. Pada tahun 1513-1552, selama pemerintahan Maharaja / Kaisar Seri Mulia Mulia Mulia Maharaja Agung Mulia Kaiser Kanjeng Kuno jati atau juga disebut Yang Mulia Kaisar Mulia Kaiser Kanjeng Mulia Maharaja Maulana Syarief Hidayatullah atau juga dikenal sebagai Yang Mulia Kaisar Mulia Maharaja Kanjeng Gunung Jati; Pusat-Sunda Nusantara Sunda kerajaan yang berbasis di Charuban (Cirebon)


Maulana Kanjeng Susuhunan Syarief Hidayatullah adalah putra Kaisar Sultan Fatah (putra tertua Kaisar Raja Brawijaya V, Kaisar Kerajaan Majapahit), dari pernikahannya dengan Putri Mahkota Gusti Kanjeng Prembayun.


Sulung putra Mulia Kaiser Kanjeng Jati Kuno, yaitu Pangeran Sultan Hasanuddin Saba Kingking atau ketika dipercayakan untuk memegang kekuasaan di Provinsi Khusus Kerajaan Maharaja Sunda, yaitu Banten Provinsi (Banten) dengan pemerintah pusat di Jayakarta (Jakarta) atau Palm Sunda.


Pada akhir pemerintahan Kaisar Mulia Mulia Maharaja Kanjeng Gunung Jati maka sejak tahun 1552 pemerintah Kerajaan Sunda lulus dari Maharaja Sultan Hasanuddin oleh, dengan gelar; Kaisar Seri Mulya Agung Mulia Mulia Mulia Kerajaan Anda Kaiser Kanjeng Maulana Hasanuddin , dan kursi pemerintahan bergeser dari Jayakarta Cirebon atau Sunda Kelapa. Sejak Kerajaan Banten (Banten) tidak lagi dan berubah menjadi kerajaan Maharaja Sunda, atau Sunda Nusantara Sunda Nusantara, dengan modal Jayakarta (Sunda Kelapa) yang diresmikan sebagai ibukota Kerajaan Banten pada tanggal 27 Juni, 1527. Tanggal tsb sampai sekarang bertugas sebagai hari jadi Jakarta.


Kepemimpinan kekaisaran Sunda Nusantara terus dari generasi ke generasi, sampai tahun 1753 - 1777 Imperial Kepulauan Sunda di pegang oleh: Kaisar Kerajaan Seri Mulia Maharaja Mulya Agung Mulia Sultan Muhammad Nasar Abun Kanjeng Zainal Asikin Arief. Dia kemudian menikah dengan putri Mulia Mataram; Gusti Kanjeng Pangeran Harya Puger Pangeran Susuhunan Pakubuwono I, Yaitu: Kanjeng Ratu Sepuh. Dengan hubungan melalui halaman pernikahan. Jadi pada dasarnya kekuatan Kerajaan Maharaja Sunda, Benua Sunda, Sunda kepulauan meliputi wilayah kekuasaan: Greater Sunda Malaka (Malaysia dan Singapura), dari Jawa-Barat ke Jepara Kendal, Banyumas, dan seluruh Jawa Tengah , Lampung, Bengkulu, Siam - Siak, Indrapura dan Indra Giri (Big Island Sumatera Sunda) Sunda Besar Pulau Kalimantan.


Pewaris dan penerus takhta Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara berikutnya adalah putra sulung Kaisar Kanjeng Sultan Abun Nasar Muhammad Zainal Arief Asikin, yaitu; Kaisar Kerajaan Seri Mulia Maharaja Mulya Agung Mulia Sultan Abul Mafachir Alioeddin Kaiser Kanjeng Muhammad I, yang memerintah pada sekitar akhir abad ketujuh belas sampai 1810 (pulau Banda kasus).


D. SEJARAH BANGSA INI, SETELAH ABAD XVI:

Pecahnya perang di Eropa karena perluasan Kerajaan Perancis yang memimpin Kaisar Napoleon Bonaparte, telah mengakibatkan penyerahan Kerajaan Belanda dan sejak tahun 1795 -1808, adalah mutlak Kerajaan Belanda di bawah otoritas Kerajaan Perancis. Sejalan dengan keadaan ini, Kaisar Abul Mafachir Alioeddin saya sebagai pemegang kantor di kepulauan Sunda Kekaisaran yang berdaulat penuh, telah mengembangkan kekuatan untuk meliputi; Sunda Sunda Besar dan Kecil ke New Guinea. Dari fakta-fakta sejarah, maka setidaknya sampai 1810 Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, Sunda Nusantara adalah kerajaan berdaulat dan kekaisaran tidak pernah dijajah oleh negara manapun, selama pemerintahan Kaisar Seri Mulya Agung Mulia Kerajaan Mulia Maharaja Kanjeng Sultan Kaiser Ahmad.


Timur wilayah (Sunda Nusantara), Prancis kerajaan tentara juga dilakukan serangan ke Sunda Kelapa (Imperial Pemerintah Pusat) pada saat Pemerintah Imperial di kepulauan Sunda oleh Kaisar memegang kemuliaan-Nya dari Yang Mulia Maharaja Paling Mulia Mulia Kanjeng Sultan Ahmad Kaiser. Sebagai hasil dari kekalahan pasukan Prancis dalam penderitaan, kemudian pada tahun 1810 di tanda - Menangani, perjanjian internasional antara kerajaan Prancis dengan Kaiser Kanjeng Sinuhun Sultan Agung Pagusten Empero Ahmad di Sunda Kelapa (White Rose). Isi dari Perjanjian, antara lain; Bahwa kerajaan Perancis telah datang untuk mengetahui Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara sejak abad ketujuh belas, dan setuju untuk mengakhiri dan menghindari perang / invasi / pendudukan wilayah Imperial kesatuan Sunda Nusantara (Sunda Integritas Teritorial).


Adalah teman Kaisar Kanjeng Sultan, Thomas Stanford Raffles, seorang Jenderal dari Britania Raya, telah diundang oleh Kaisar untuk bersama-sama berlayar ke dalam Kekaisaran Sunda Kecil dalam rangka untuk merayakan kemenangan Kepulauan Sunda terhadap serangan dari Perancis Kekaisaran kekuatan (1810). Sesampainya di P. Banda, dengan semua kelicikannya, Raffles melempar (kiri) Kaiser Kanjeng Sultan Ahmad di Pulau Banda. Kemudian Sultan Ahmad dapat melarikan diri dari pulau Banda tiba di desa sampai achirnya Baragan (Apex) dan ia meninggal disana.Untuk melumasi kepentingan politiknya, Raffles kemudian menghilangkan bukti-bukti sejarah lainnya dengan menghancurkan Istana Surosoan Banten.


Setelah pembuangan Kaisar Sultan Ahmad sejak 1816, Thomas Stamford Raffles memberikan pendudukan kolonial wilayah administrasi kepulauan Sunda di Kerajaan Belanda diwakili oleh Herman William Daendels di Semarang. Dari urutan atas peristiwa (kasus Banda P. dan Semarang), memulai proses manipulasi Bangsa Nusantara Sejarah Kebangsaan Sunda, terus sampai nama Indonesia memperkenalkan dia untuk hari ini.


Nama Indonesia sebenarnya, pada awalnya pengantar oleh GW Earl; kemudian diperkenalkan kembali oleh AR Etnologi Inggris Logan, seorang warga Jerman, Adolf Bastian sejak tahun 1850 lebih mempopulerkan nama Indonesia. Setelah itu, sekitar tahun 1889 - 1895, Prof. C. Van Hoven Vollen memperkenalkan Indonesia ke nama etnolog ketika ia mengambil gelar Profesor Hukum Adat di Asia Tenggara, tepatnya di Kepulauan Sunda. Penghapusan proses (manipulasi) Identitas Pemilik kedaulatan Negara kepulauan Sunda ini kemudian diikuti oleh Dr Cipto Mangunkusumo, Multatuli, Soewardi Soeryaningrat dan teman-teman.


Berakhirnya penjajahan Belanda Royal oleh pengadilan Prancis yang di tandai dengan sebuah Perjanjian Internasional di Wina pada tahun 1815, Kongres Wina di mana perjanjian inti menyatakan: "Kembalinya atau restorasi dari semua hak (Rehabilited) daripada dalam bentuk Monarki atau Kekaisaran Negara di seluruh penjuru dunia., apakah mereka telah atau yang belum pernah dikalahkan atau tertaklukka ". Dengan demikian, maka hukum internasional, kerajaan Maharaja Sunda Nusantara secara administratif dikuasai oleh Hindia Belanda, sejak 1815, kedaulatan teritorial harus dikembalikan. Oleh karena itu, berdasarkan bukti-bukti sejarah, itu dimulai pada 1815 Kerajaan Maharaja Kepulauan Sunda adalah kerajaan merdeka dan berdaulat.


Keinginan pemerintah Hindia Belanda untuk menduduki kerajaan Maharaja Sunda Nusantara teritorial, telah mampu mengabaikan keputusan Kongres Wina dan terus berusaha dengan segala cara untuk bercokol di kepulauan Sunda bumi. Masalah ini telah menempatkan Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara dalam kasus sengketa internasional, di mana Belanda tejadinya kekalahan melawan Kekaisaran Jepang, yang diselenggarakan pada 5 Maret 1942. Sampai akhirnya berhenti oleh perang Pasifik


Sejak kekalahan Belanda oleh Jepang dalam perang Pasifik, maka kerajaan Maharaja Sunda Nusantara benar-benar gratis dan menjadi sebuah kerajaan berdaulat yang independen, kembali sebagai suatu Bangsa Internasional individu, Kepulauan Sunda.


Sejalan dengan perkembangan sejarah, itu adalah popularitas nama Indonesia juga memiliki banyak mengubah pola pandang (persepsi) dari identitas / identitas nasional. Sebagai hasil dari keadaan ini, maka pada masa pergolakan oleh sekelompok mahasiswa c / q Soekarno Cs melalui Partai Nasionalis Indonesia (PNI), istilah "Indonesia" mulai ditetapkan sebagai identitas Bangsa, di sekitar tahun 1923. Puncak Sejarah langkah manipulasi dan Identitas Identitas Bangsa dikumandangkannya akhirnya terjadi ketika Deklarasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, tak lama setelah kekalahan Jepang oleh Amerika.


Kepentingan politik tertentu permainan untuk memanipulasi / menghapus IDENTITAS Identitas negara kepulauan Sunda jelas tidak lagi memperhatikan kesepakatan / perjanjian Internasional, baik Kongres Wina (1815) dan Peraturan Internasional Yalta (Februari 1945) yang menyatakan: Bahwa, selama dan setelah Perang Dunia II atau Perang Asia-Pasifik, menginstruksiksan larangan terhadap penyitaan wilayah (wilayah) dari Negara lain. Jadi ketika mengacu pada Kongres Wina dan Yalta keberadaan (kehadiran) kedaulatan Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara harus tetap ditegakkan Hukum Internasional, Republik Indonesia tahun 1945 telah jatuh oleh hukum.


Nama, nama bahasa dan nama sebenarnya dari negara tidak dapat hanya dinyatakan atau diganti / dipindahkan ke nama lain. Nama, nama dan nama Bahasa adalah identitas Bangsa Negeri yang merupakan hukum alam dan kehendak Allah. Oleh karena itu, jika dikejar bersama-sama harus mencari garis sejarah yang benar, dalam rangka untuk mengetahui identitas Bangsa dan Negara Induk.


E. BANGSA DALAM ABAD XX SEJARAH:

Kerajaan Sunda Nusantara pendudukan wilayah oleh Belanda sejak 1816, pada dasarnya hanya suatu pekerjaan administratif pemerintah Belanda (Hindia Belanda) yang tidak dapat dibenarkan oleh hukum apapun, karena pekerjaan ini jelas melanggar perjanjian internasional sesuai dengan keputusan yang diperoleh dalam Kongres Wina (1815). Ini pendudukan ilegal ini akhirnya dihentikan ketika Belanda dikalahkan dan menyerah kepada kekaisaran Jepang di Asia-Pasifik perang, di mana serah terima berlangsung pada tanggal 5 Maret 1942. Dengan acara ini, maka kerajaan Maharaja Sunda Nusantara telah dibebaskan dari pendudukan bangsa asing (Belanda) baik pendudukan wilayah atau pendudukan aturan administrasi dan kerajaan dari Maharaja Sunda Nusantara telah benar-benar Gratis dan Independen.


Prajurit bangsa di waktu itu, dengan tidak memperhatikan kebenaran historis dari perjanjian masa lalu dengan perjanjian internasional yang ada (Wina, Prinsip dari Ethiopia, Yalta) ditambah dengan pikiran-pikiran lain yang berorientasi politis, lakukan langkah dengan memproklamasikan revolusi kemerdekaan ... ... ... Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dengan tidak hormat bagi para pejuang, akhirnya menghasilkan pengulangan sejarah sejarah kerajaan Maharaja Sunda Nusantara manipulasi. Dengan diperkenalkannya usaha sendiri melalui perampingan sejarah identitas bangsa menurut aturan / kesepakatan hukum internasional, kembali mengalami penyimpangan.


Adanya peristiwa Kelas II (1949), dimana Republik Indonesia1945yang pendudukan wilayah kepulauan Sunda lakukan Maharaja kerajaan dikalahkan oleh pihak asing (NICA), terakhir dan hilang di Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1949. Pada saat Republik Indonesia tidak lagi ada dan berdasarkan perjanjian Roem - Van Royen (1949) untuk berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wilayah meliputi Yogyakarta ke Jogyakarta. Tapi kemudian RIS Yogyakarta terhadap pendudukan integritas teritorial (Integritas Teritorial) Negara Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, Sunda Nusantara, yang berdaulat dan sah. Langkah RIS membuat pendudukan suatu wilayah Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara yang berdaulat dan Syah jelas-jelas melanggar kesepakatan / Perjanjian yang ada.


Pada tanggal 22 Mei 1956, pihak berwenang pada waktu itu pembubaran RIS, yang berarti adalah bahwa Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara hukum politik internasional secara otomatis dibebaskan dari pendudukan pihak lain (RIS-Yogyakarta) dan bebas berdaulat , mandiri lagi. Bahkan ternyata penguasa pada waktu itu dipimpin untuk membentuk pemerintah baru Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Deklarasi Juanda yang dibuat pada tahun 1957 di Nusantara, yang paling berikutnya tidak sudah ditempati oleh unit administratif pemerintah atas wilayah kepulauan Kerajaan Sunda Maharaja. Pada dasarnya telah melanggar Resolusi Konferensi Internasional Asia-Afrika (Pasal 1,2,3,4 & 5) di Bandung, pada tahun 1955.


Melihat sejarah perkembangan bangsa yang cenderung selalu dimanipulasi dari waktu ke waktu, dan mengacu pada hukum internasional yang berlaku didasarkan pada:

a). Kongres Wina 1815.

b). Prinsip dari Ethiopia pada tahun 1938.

c). Internasional dari Yalta, pada bulan Februari 1945.

d). Autem forma Regimitis Mutata, Nox mutator IPSA Populus

     Ajaran Uni Possidetis: Nec VI, Clam Nec, Nec Precario

e). Konferensi Asia International resolusi - Afrika di Bandung 1955
     (Artikel: 1,2,3,4 & 5).

f). Prinsip: Statuta Batasan (Lost Batasan).

Kemudian pada tahun 1976, Pemerintah Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara mengajukan resolusi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mahkamah Internasional (MI), yang pada dasarnya menyampaikan keberadaan kerajaan penjelasan Maharaja Sunda Nusantara. Selanjutnya, PBB dan Dunia Internasional masih mengakui keberadaan Kerajaan Maharaja Sunda dan Kepulauan Sunda Maharaja Kepulauan pemerintahan Kerajaan berlanjut. Pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (World Internasional) yang setiap tahun; 1970, 1976, 1985, 1991,1992, 1993, 1995, 2001 ... Dll 2005-07-2006 ... dan pengakuan internasional yang sangat hari semakin kuat. TSB pengakuan internasional. Tentunya tidak hanya untuk wilayah (Integritas Teritorial) Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, tetapi juga kepada pemerintah dan negara kepulauan Sunda, yang sampai sekarang memiliki kendali kerajaan dipegang oleh: Abul Mafachir Moehammad Mulia Heroeningrat Siliwangi Al-Misri II. Sebagai langkah pertama dan sekaligus mempersiapkan diri untuk menyambut kembali kedaulatan penuh penyerahan dan pendudukan dari semua aset Pemerintah Negara Republik Indonesia untuk Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, Kaiser Mulia Mafachir Moehammad Heroeningrat Abul Al-Misri II telah memberikan kekuasaan mutlak kepada pewaris sah, untuk bermain dan Delegasi bertindak sebagai Duta Besar Kerajaan Maharaja Sunda Bangsa nusantara maupun Badan Pelaksana Negara Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, di mana institusi tsb. Hal ini juga dikenal dan ditoleransi keberadaannya oleh Dunia Internasional.


Sejalan dengan pengakuan Dunia Internasional Negara kepulauan Sunda Maharaja Kekaisaran dan Pemerintah, itu yang dipahami ketika seluruh masyarakat, dari suku atau setiap sekte atau agama yang menghuni kerajaan Maharaja Kepulauan Sunda, bersama-sama dan saling melengkapi lainnya, saling mengasah kasih sayang, saling, untuk memupuk kebersamaan saling silih wangi bangsa wangi.keharuman yang mendiami wilayah / tanah Sunda Nusantara (Sunda Besar, Sunda Kecil, ke P. Irian, New Guinea dan daerah sekitarnya), Sunda aroma kepulauan bangsa, wewangian, Kepulauan Sunda Identitas Nasional, masa lalu, sekarang dan masa depan.


F. KESIMPULAN:

Dari deskripsi dalam garis sejarah bangsa, maka dapat disampaikan beberapa butir kesimpulan yang meliputi:


Dataran Sunda, Benua Sunda, Sunda dangkal (Sunda Sahul) telah dikenal sejak lama, sekitar 86 juta tahun lalu, yang kemudian menyatu dengan daratan Asia. Terjadi sebagai hasil dari proses alam selama jangka waktu yang lama, akhirnya membentuk penampilan dari bentuk kulit bumi seperti sekarang ini.


Bangsa Sunda adalah bangsa yang menghuni tanah dan ketika ada perubahan dalam cara kerak bumi di mana tanah selanjutnya digunakan bersama-sama pada akhirnya dipisahkan oleh laut dan selat, kemudian ada pulau-pulau yang lebih besar disebut Sunda Besar dan pulau-pulau kecil (kepulauan) disebut Sunda Kecil. Keluarga bangsa-bangsa yang mendiami pulau-pulau dan pulau-pulau yang dikenal sebagai Rumpun Melayu atau Melayu Sunda (Sunda kepulauan bangsa), Kepulauan Sunda, yang sejak tahun 130 Negara Kekaisaran AC berbentuk Maharaja Sunda Nusantara, dengan pemerintah pusat di Salakanagara (Banten) .


Bahwa nama Kerajaan Negara kepulauan Sunda Maharaja Sunda dengan negara kepulauan yang menghuninya diberikan Amanah Pencipta, Allah swt kepada leluhur kepada keturunannya sampai bangsa Sunda sebagai generasi berikutnya, adalah hukum alam dan kehendak Allah SWT yang tidak dapat diubah atau diubah atau dimanipulasi oleh kepentingan apapun dan sampai kapanpun, karena itu adalah suatu IDENTITAS Memang Bangsa atau Nation Induk, adalah sesuatu yang tidak terkirakan nilainya sangat tinggi.


Bahwa kerajaan kepulauan Sunda Maharaja sejak pertama adalah bahwa Negara Bebas, berdaulat dan memiliki area teritorial (Integritas Teritorial), setidaknya sampai tahun 1810, pada saat Thomas Stamford Raffles licik menipu Sultan Ahmad (kasus P Banda 1810).. Selain itu, dengan cara licik pendudukan administratif juga dibentuk oleh pemerintah kolonial Belanda (Semarang, 1816). Pendudukan pemerintah Hindia Belanda atas wilayah Kerajaan Sunda Nusantara tahun1942 berakhir, ketika Belanda menyerah kepada Kekaisaran Jepang di Asia perang - Pasifik, yang diteruskan ke pengajuan pada 5 Maret 1942.


Nama Indonesia adalah istilah penamaan area "Nusantara" diperkenalkan oleh GWEarl; yang disahkan oleh etnolog Inggris AR Logan. Oleh Adolf Bastian, seorang warga Jerman, nama Indonesia diperkenalkan lebih lanjut dalam membuat acara gelar Profesor Hukum Adat di Asia Tenggara, tepatnya di wilayah kepulauan Sunda. Prof C. Van Hoven Vollen sekitar tahun1889 - 1895 dikonfirmasi, kemudian memperkenalkan nama "Indonesia", "Melanesia", "Polenesia" Para kpada para etnolog yang hadir. Dari sejarah nama, nama Indonesia Sebenarnya itu bukan nama sebenarnya dari sebuah negara di Kepulauan Sunda Besar dan Sunda Kecil (Sunda Nusantara), yang tentu saja juga bahwa "Indonesia" tidak Identitas Bangsa Identitas.


Dalam pandangan dari isi perjanjian / kesepakatan internasional (Kongres Wina pada tahun 1815, Prinsip Ethiopia pada tahun 1938, Peraturan Internasional Yalta - Februari 1945), tanpa mengurangi rasa hormat bagi para pejuang bangsa, Republik Indonesia sedang dalam Bahkan diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, telah melanggar hukum internasional dan dengan sendirinya harus Autumn oleh hukum.


Berdasarkan aturan hukum internasional, baik Kongres Wina, Peraturan Dari Yalta, Prinsip dari Ethiopia, perjanjian Roem-Van Royen dan Asia-Afrika konferensi dan prinsip-prinsip internasional lainnya, maka sesungguhnya Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Shah tidak sesuai dengan hukum internasional, tidak pernah memiliki wilayah (Integritas Teritorial), kecuali Yogyakarta. Itupun dibubarkan oleh Belanda (Belanda) dalam konferensi Meja Bundar pada tahun 1956.


Bahkan, sejak 1970 sampai sekarang, Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara Negara dan pemerintah, keberadaannya masih diakui dan dihormati oleh PBB dan Dunia Internasional Dunia. Kendali dari Empire State Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara sampai sekarang dipegang oleh: Kaiser Mulia Mafachir Moehammad Heroeningrat Siliwangi Abul Al - Misri II.


Bahwa nama Negara, Bangsa dan Territory, territorialnya Amanah dasarnya Pencipta Allah SWT kepada leluhur dan keturunannya Bangsa. Maka nama yang merupakan Identitas Diri Bangsa, harus bersama - sama di belakang kumandangkan dengan terbaik - baik melalui proses perampingan sejarah kepulauan Bangsa Sunda.


Sejalan dengan proses perampingan sejarah Bangsa, Kaiser Abul Mafachir Moehammad Mulia Heroeningrat Al Misri II Siliwangi. Telah didelegasikan kekuatan penuh ke pewaris sah untuk memainkan peran dan bertindak sebagai Duta Kerajaan Bangsa Sunda Nusantara Delegasi Maharaja sebagai pemegang Amanah Bangsa dan Negara serta Badan Pelaksana Negara kerajaan kepulauan Sunda Maharaja. Kelembagaan - hari kelembagaan telah kehadirannya dikenal dan ditoleransi oleh International Dunia, PBB dan Mahkamah Internasional (MI).


G. PENUTUP:


Mengamati fenomena dan kejadian-kejadian di bumi, baik itu bencana alam atau krisis di segala bidang, pada dasarnya semua itu adalah hasil manifestasi dari penyebab yang didasarkan pada perilaku, dan kehidupan manusia yang tidak lagi mengabaikan / mengabaikan aturan-aturan hukum alam yang telah digariskan oleh Sang Pencipta, Allah swt Oleh karena itu untuk dapat mengatasi semua masalah, pada tahap awal adalah mungkin untuk menemukan penyebab utama atau sumber masalah. sehubungan dengan hal tersebut, adalah bijaksana untuk melakukan upaya introspeksi diri, untuk mendapatkan jelas penyebab primer atau sumber masalah yang sebenarnya, sehingga pada akhirnya upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah krisis, justru dapat mencapai target dan tidak dalam sia-sia.


Masalah yang dihadapi oleh pemerintah saat ini Republik Indonesia, dimulai dengan "Krisis Moneter", sehingga menyebabkan krisis ekonomi berkepanjangan, ditambah dengan dekadensi moral yang telah membudaya korupsi, penyalahgunaan wewenang, separatisme dan segala macam krisis lingkungan / alam bencana dan lain-lain. Melihat semua itu, maka dapat dikatakan bahwa saat ini pemerintah Republik Indonesia dilanda "Krisis Multi Dimensi", krisis di bidang.dan semua tepatnya krisis kedaulatan Bangsa.


Setiap upaya untuk mengatasi krisis ini perlu dilakukan dengan benar dan benar-benar bijaksana, sebelum melangkah dalam upaya untuk mengatasi krisis mereka akan, pertama melakukan introspeksi beberapa untuk mengetahui sumber yang tepat dari masalah yang dihadapi. Dengan mengetahui sumber masalah, maka usaha-usaha akan diragukan lagi efisien dan efektif seperti yang diharapkan. Langkah awal yang harus berorientasi untuk menemukan kembali identitas bangsa identitas yang telah lama terlupakan. Selama ini sejarah menunjukkan adanya retorika politik tertentu dan rekayasa dengan penutup bunga atau bahkan menghilangkan identitas identitas sebenarnya bangsa ini, pada akhirnya mereka yang dipengaruhi oleh retorika politik tertentu dan Teknik, bisa melupakan bahwa Identitas Identitas Nasional adalah lem untuk utuhnya Persatuan dan Kesatuan Nasional, setidaknya untuk lingkup Asia Tenggara berdasarkan kewilayahannya Kedaulatan Mutlak.


Oleh karena itu, dimulai dari penemuan kembali identitas Identitas Bangsa sebagai perekat persatuan dan persepsi umum, perekat dalam menegakkan nilai-nilai luhur Bangsa moral, perekat dalam upaya untuk meningkatkan bersama-sama, baik moral-spiritual dan material, untuk mengatasi semua masalah multi-dimensi krisis yang terjadi saat ini. Langkah-langkah untuk menemukan kembali identitas bangsa, di sisi lain merupakan upaya untuk kembali mengikuti hukum Sang Pencipta, Allah swt bahwa nama nama bangsa, negara dan wilayah territorialnya (Integritas Teritorial), dan kedaulatan adalah Amanah Pencipta, Allah swt kepada leluhur, bangsa dan ahli waris nya, keturunan sebagai generasi masa depan. Retorika dan rekayasa politik tidak akan dapat mengubah tsb Amanah, baik di masa lalu, sekarang dan di masa depan. Pemaksaan akan ke kepentingan politik tertentu pada akhirnya akan menyebabkan masalah besar seperti multi-dimensi krisis saat ini dan yang lain untuk introspeksi diri kita bahwa ada anak-anak yang peduli tentang isu-isu sejarah Bangsa bahkan dalam menangkap-dikejar oleh otoritas Republik Indonesia Administrasi Kepolisian Nasional, daripada bersyukur diingatkan sejarah nenek moyang.


Sebagai tanggung jawab moral bangsa, bangsa kepulauan Sunda, sedang dipahami ketika berpartisipasi dalam upaya untuk menemukan kembali diri Bangsa Identitas, melalui upaya perampingan naskah Bangsa.Penulisan sejarah dengan judul:


"Flashback Sejarah Perjalanan Dikepulauan Agung Sunda dan Sunda Kecil" ini pada dasarnya adalah suatu bentuk partisipasi; bahwa meskipun masih banyak kekurangan, jauh dari sempurna setidaknya dapat memberikan sekilas dalam sejarah upaya bangsa untuk kembali keselarasan. Saran, kritik dan umpan balik (output) data dan informasi tentang kebenaran sejarah dari semua lapisan komponen bangsa diharapkan.


Undangan lebih lanjut untuk semua anak bangsa untuk bersama-sama mengejar proses perampingan sejarah bangsa, untuk mensosialisasikan kebenaran sejarah bangsa dalam wadah:


"KOMUNITAS FORUM SUNDA NUSANTARA",

adalah langkah pertama dalam berpartisipasi dalam menunggu dan diharapkan. Semoga melalui forum kebersamaan, proses perampingan sejarah bangsa segera dapat diwujudkan, sehingga semua anak bangsa dapat menemukan kembali diri sendiri Identitas Bangsa, Bangsa Sunda Nusantara, yang pada gilirannya dapat digunakan sebagai titik awal dalam mengatasi krisis menghadapi garis multi-dimensi dengan berdirinya Kerajaan Maharaja Sunda Negara kepulauan Independen, Penguasa penuh filosofi:


"Perbaikan Asah, Asih Reparasi, Merawat Reparasi, dengan aroma Bangsa Sunda Melayu, udara-abad sejak abad terakhir adalah Negara kepulauan Sunda Falsapah.



Semoga! Kami semua taufik dan bimbingan Mahakuasa Allahu Akbar, Allahu Akbar,


Wassalamualaikum Warrohmatullahi Wabarokatuh.